Rabu, 29 Juni 2011

Sang Filsuf Besar: Socrates

         Socrates adalah filsuf yang lahir pada tahun 470 M dan meninggal pada tahun 399 M. Socrates lahir di Athena. Dalam seluruh sejarah filsafat, filsuf ini dianggap penuh dengan teka-teki. Bahkan pemikiran Socrates malah sangat berpengaruh terhadap pemikiran Eropa. Dia adalah filsuf rasionalis. Nasib Socrates di akhir hayatnya tidak lebih baik dari Anaxagoras yang mati dibunuh karena menganggap bahwa matahari adalah batu merah panas. Socrates adalah seorang filsuf besar yang dikenal akan kebijaksanaannya. Pernah seorang peramal semasa hidupnya memberikan pernyatan bahwa orang yang paling bijaksana adalah Socrates. Mendengar kabar tersebut, ia terkejut. Socrates akhirnya menyadari bahwa ia seorang yang bijak setelah berdialog dengan seseorang dimana orang tersebut tak mampu menjawab pertanyaannya. Meskipun Socrates tidak meninggalkan karya tulis semasa hidupnya, melalui penuturan dalam karya-karya Plato kita bisa mengetahui bahwa dia seorang filsuf besar. Socrates pernah berkata, "orang yang bijaksana adalah orang yang mengatakan bahwa dia tidak tahu.” Ini mengindikasikan bahwa Socrates seorang filsuf besar yang rendah hati dan berusaha untuk mengajak orang-orang untuk rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.
Secara fisik, Socrates itu ialah seorang yang memiliki fisik yang kuat namun ia tidak memiliki wajah yang rupawan. Dia memiliki kebiasaan untuk tidak memakai alas kaki dan berpakaian lusuh dalam menjalani aktivitasnya. Sehari-hari Socrates senang pergi ke keramaian seperti pasar untuk berdialog dan berdebat mengenai sesuatu. Socrates itu senang untuk berusaha menemukan kebijaksanaan yang ada dalam kehidupan. Moralitas menjadi fokus perhatiannya. Keadilan, kebenaran, dan kebaikan adalah sasaran Socrates.
Selama hampir 2.500 tahun, pemikiran Socrates menghasilkan aliran-aliran dalam filsafat. Ini merupakan bukti bahwasanya dia seorang filsuf terbesar. Diakibatkan jejak-jejak Socrates berasal dari penuturan Plato maka kita tidak bisa begitu saja percaya bahwa apa yang dikatakan Plato tentang Socrates itu benar. Karya-karya Plato yang menceritakan kehidupan Socrates belum pasti kebenarannya. Pada saat kita membedakan antara ajaran-ajaran filsafat Socrates dan Plato pun kita bakal mengalami kesulitan karena pemikiran-pemikiran yang dianggap asli oleh Socrates faktanya  bukan dari mulutnya langsung yang terdokumentasikan dalam karyanya melainkan dari penuturan Plato. Sama halnya yesus yang tidak diketahui dengan pasti apakah dia mengatakan kata-kata yang diutarakan oleh Matias dan Lukas.
Socrates awalnya pernah dikira seorang sophis, tetapi ternyata dia sebenarnya bukan. Bahkan Socrates dikenal sebagai musuh kaum sophis dimana kaum sophis itu boleh dibilang memperdagangkan filsafat kepada masyarakat. Jadi, kaum sophis itu menganggap keterampilan berfilsafat itu sebagai profesi, beda halnya dengan Socrates yang menganggap bahwa filsafat itu sebagai cara hidup. Pada masa hidup Socrates, kaum sophis sangat mendominasi dan Socrates mentang cara pandangnya akan filsafat.
Pengetahuan bagi socrates adalah keutamaan dalam kehidupan. Dia menganggap bahwa orang berdosa akibat tidak memiliki pengetahuan. Apabila orang memiliki pengetahuan menurutnya orang tersebut tidak akan berdosa. Dan tentu saja ini bertentangan dari etika kristianitas. Socrates benci terhadap kemalasan. Nilai luhur kebenaran sangat dijunjung tinggi olehnya. Dia sangat berhasrat untuk menemukan kebenaran, Baginya kebenaran dapat diperoleh melalui hati nurani. Apa yang dianggap benar oleh hati nurani merupakan kebenaran yang sesungguhnya menurut dirinya. Wawasan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan hati nurani. Wawasan memiliki peranan penting untuk mampu memisahkan mana yang benar dan mana yang salah. Bukan masyarakat yang berhak menentukan kebenaran. Seperti kita ketahui bahwa Socrates ialah seorang rasionalis maka ia selalu mengutamakan akal dalam menyelesaikan masalah dan menentukan kebenaran.
Socrates memiliki metode dalam upaya penemuan kebijaksanaan. Metode tersebut dikenal dengan dialektika (tanya-jawab). Ini nampak dari saat ia berdialog di pasar dengan orang-orang hingga munculnya perdebatan diantara mereka. Menurut James Joyce, Socrates menemukan metode ini dari istrinya yang bernama Xantipe. Jadi, dalam pelaksanaan metode ini Socrates memposisikan diri sebagai bidan kebenaran. Socrates dalam berdialog tidak memposisikan dirinya untuk menggurui namun dia berlagak bodoh sehingga orang yang diajaknya berdialog itu terangsang untuk menggunakan akalnya. Dengan cara seperti ini perlahan-lahan Socrates mampu memahami kelemahan-kelemahan dari pemikiran seseorang yang dia ajak berdialog. Dengan saling bertukar pikiran Socrates lalu sampai di titik dimana ia menemukan wawasan yang merupakan kebenaran. Diakibatkan diskusinya tersebut, seringkali ia malah dibenci karena orang yang berdiskusi dengannya merasa dipermalukan. Hasrat Socrates akan pencarian kebenaran dilandasi oleh rasa ingin tahu dimana ia memposisikan diri sebagai seorang yang tidak tahu apa-apa dan ia ingin tahu. Pernah sekali waktu ia berkata, “hanya satu yang aku ketahui tentang diriku yaitu aku tak tahu apa-apa.


Detik-detik sebelum meminum racun cemara   

Pada tahun 399 M Socrates didakwa hukuman mati oleh juri yang terdiri dari 500 orang. Socrates dianggap telah memperkenalkan dewa-dewa baru dan menolak untuk menyembah dewa-dewa yang lama. Ditemani para sahabatnya, Socrates dihukum untuk meminum racun cemara sehingga akhirnya dia meninggal secara dramatis. Dakwaan ini sebenarnya bisa diperlonggar andaikata idealisme Socrates goyah. Socrates tetap memiliki pendirian yang teguh bahwa ia tak bersalah. Sama halnya yesus yang dihukum mati dalam keadaan teguh terhadap idealismenya. Baik Socrates maupun Yesus sangat menghargai nuraninya. Mereka menganggap bahwa misi yang dibawanya lebih penting daripada dirinya sendiri. Oleh karena itu, mereka berdua mati secara dramatis saat memperjuangkan misinya.            


Oleh : Arief Budiman


Sumber Bacaan

Gaarder, Jostein. 1996. Dunia Shopie. Bandung: Mizan.
Osborne, Richard. 2001. Filsafat untuk Pemula. Jakarta: Kanisius.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar